Aku sangat menikmati saat-saat melihat pemandangan yang indah, kemudian termenung, dan berpikir hal-hal yang menurut saya menarik. Melihat bintang di langit, memandang gunung, memperhatikan horizon, mencuri dengar kicauan burung, dan membangunkan mentari sangatlah menyenangkan bagiku. Suatu hal yang janggal, tapi suatu hal yang sangat menyenangkan. Situasi yang benar-benar spesial bagi diriku
Hari Sabtu, kami berangkat untuk mendaki Gunung Manglayang. Kami ingin menikmati alam yang sunyi dan sejenak menghindari kebisingan kota. Kami memulai perjalanan dengan latar belakang kesombongan dan kepercayaan diri yang terlalu besar. Mengingat tiap orang dari kami memiliki pengalaman mendaki di gunung yang lebih tinggi, kemampuan fisik yang tangguh, dan mental yang kami percaya cukup teruji dalam kondisi apapun.
Kami melakukan perjalanan ke Jatinangor dengan menggunakan bus kota, dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojek sampai ke kaki gunung. Sesampainya di kaki gunung, kami ngobrol-ngobrol diwarung. Disana juga kami ngobrol bersama ibu pedagang, dan ibu ini menyatakan bahwa untuk sampaike puncak hanya membutuhkan waktu 2 jam.
Dengan segala persiapan kami melakukan pendakian. Pendakian dilakukan dengan formasi Rega, Octa, Dwi, David, Ruth, Kiki, Feri. Awal perjalanan cukup ringan, kami bersenda gurau dan tertawa-tawa. Tak lama kemudian tanah yang kami lalui makin curam dan ekstrim. Untukku pribadi, hal ini tidak terlalu berat. Tapi beberapa lama kemudian makin ekstrim saja lahan yang harus kami lalui. Sampai pada akhirnya tas carier yang kubawa berukuran 80Liter (kalo kita andaikan isi tas saya air seluruhnya maka berat tas saya adalah 80kg, karena berat = rapat massa x volume, untungnya isinya bukan air smua.hahaha.) mulai menjadi beban yang sangat berarti (maksudnya berat). Situasi ketika tanah yang aku injak membuat aku terus turun/ tergelincir/ merosot. Saya merosot tidak hanya 1x atau 2 x, tapi saya bisa mengingat hal ini terjadi sekitar belasan kali. Dari posisi awal badan saya yang tegak saat mau naik, mulai miring ketika berusaha naik kembali, merangkak, dan akhirnya menempel dengan tanah(merayap), aku terus tergelincir. Hal ini sedikit membuatku frustasi, dan jujur saja aku sangat kecapekan. Akhirnya tas itu aku oper ke Rega yang sudah diatas. Setelah dioper, aku naik keatas dengan mudah tanpa tergelincir. Aku benar-benar mendapat pelajaran yang berharga saat itu, bahwa kesombongan akan membuat kita hancur. Ego kita akan diluluhlantakan oleh Yang Maha Kuasa.
Sesampainya diatas tempat saya terus tergelincir, aku tidak melihat jalur yang dapat didaki oleh beberapa teman saya yang lain. Sebenarnya ada 2 jalur yakni kanan dan kiri. Kedua jalur ini sama-sama curam, mungkin klo diperkirakan membentuk kemiringan 75-80 derajat dengan permukaan bumi. Kemudian Rega meminta aku melihat kondisi di kedua jalur, dan mencoba untuk naik ke jalur kiri. Dengan susah payah aku naik dan mulai mendaki. Dengan posisi merayap , aku naik sedikit demi sedikit dengan berpegangan pada batang pohon yang ada. Saat itu aku menyenggol batu. Otomatis batu yang kusenggol itu jatuh, seraya itu aku berteriak,” awas batu”. Namun batu itu terlanjur jatuh dan membentur tangan Dwi, dan melayang menujur kepala Feri, tapi untung terdapat dahan pohon tepat didepan kepala Feri. Sesaat sebelum batu itu menghantam kepala Feri, batu tersebut menghantam dahan dan kemudian trajectorynya berubah. Huuuhhhh. Untung saja pikirkku, coba engga, masa pulangnya ada yang tinggal nama.
Kemudian aku terus naik sendiri ke atas, aku tidak dapat melihat sinar senter teman-teman. Aku sangat bersemangat karena aku yakin sekitar 5meter lagi aku sampai puncak gunung itu. Sayangnya Kiki memanggilku dan menyuruhku turun kebawah. Disatu sisi aku yakin 5 meter lagi aku akan sampai puncak, tapi aku juga tidak ingin meninggalkan teman-temanku dibawah karena memang jalur itu tidak mungkin untuk dilewati wanita, dan orang yang tidak memiliki lengan yang kuat. Akhirnya aku turun, dan atas berbagai pertimbangan kami memutuskan untuk turun ke tutuk awal pendakian. Dalam hatiku berkecamuk emosi, bukan pada orang lain, tapi pada diri sendiri. Hal ini dikarenakan beberapa hal yang tidak dapat aku ungkapkan dengan kata-kata. Tapi aku yakin begitu sampai bawah, kami akan melanjutkan perjalanan kami menuju puncak sebelum sang mentari bangun. Di perjalanan turun, temenku si Dwi menangis dan kehilangan semangat serta moodnya menjadi negatif. Ruth mendekati dan memeluknya, dengan rasa kasih sayang. Aku ingin menghiburnya, tapi dengan segala pikiran yang ada didalam diriku hanya bisa memberi kata-kata semangat. Aku juga belajar disaat itu bahwa banyak hal yang bisa kita lakukan untuk orang lain, walaupun kita sedang bermasalah dan dalam keterbatasan.
Beberapa waktu sebelum sampai di checkpoint, Rega tergelincir dan keseleo. Sampai di checkpoint kami memasak, mendirikan tenda. Kemudian sambil makan, kami ngobrol-ngobrol tentang kelanjutan perjalanan kami, apakah masih akan mendaki menuju puncak atau tidak. Sejujurnya saat diskusi ini terjadi konflik dalam diri setiap orang, baik konflik batin , maupun konflik yang mengakibatkan sedikit perdebatan.Akhirnya keputusan yang diambil adalah perjalanan menuju puncak tidak dilanjutkan. Sesungguhnya aku kembali berpikir kenapa tadi tidak naik saja sendiri ke puncak yang sekitar 5 meter lagi, dan baru turun jika aku tau kenyataannya akan begini. Tapi aku belajar untuk berpikir lebih jernih, aku yakin Tuhan menyediakan rencana yang baik dalam setiap proses kehidupan yang kujalani. Lagipula aku masih bisa mendaki lagi lain kali kalau Tuhan masih memberikan fungsi-fungsi tubuhku berjalan dengan baik.
Akhirnya kami ngecamp di tempat itu, dan mulai bercerita-cerita yang membuat inspirasi. Kecapaian itu hilang karena senda gurau dan tawa yang terus mengalir baik ketika makan, minum, ngobrol, “perang”, saat ada yang ganti celana didepan tenda, hahahaha, maupun saat mau tidur.
Aku perhatikan alam disekelilingku. Hari itu tidak ada kabut dan awan. Yang ada hanyalah kesunyian malam, dan ribuan bintang yang bercahaya dan bersinar memandangi kami, manusia-manusia kecil yang duduk di sebuah planet biru kecil di Galaksi Bimasakti. Aku tergoda untuk terus memandangi kembali bintang-bintang itu. Akhirnya kuputuskan tidur dengan memandangi langit dan bintang yang terus bersinar di gelapnya malam. Thanks God, hanya itulah yang kupikirkan.
Pagi hari, kami bangun dan sama sekali tidak melihat sunrise. Yasudahlah, lain kali masih bisa dengan team yang lebih banyak dan lengkap. Kami ngobrol, makan, bercanda. Hal ini diawali dengan Saat Teduh bersama anggota perjalanan, kami merefleksikan kehidupan kami. Banyak yang kupelajari saat itu, saat-saat kami saling berbagi, persahabatan dan kepercayaan yang kami bangun, dan juga apa yang mau Tuhan tunjukan pada perjalanan kami.
Kami pulang dengan melakukan perjalanan kaki sekitar 3 jam sampai ke Jatinangor kampus UNPAD. Kami makan. Satu hal yang aneh adalah setiap kali turun gunung bersama mereka, makanan yang kumakan selalu saja pedas. Aku sama sekali tidak suka pedas. Padahal kan harusnya sampai di kota, makan yang enak-enak.ckckckck…
Punggung, kaki, tangan, dan semua otot yang ada di tubuhku sakit, tujuan melihat sunrise tidak tercapai, perjalanan tidak berhasil, akan tetapi aku belajar lebih banyak hal dalam perjalanan ini yang belum tentu aku dapatkan bila aku mencapai puncak gunung itu. Memang kadang apa yang kita rencanakan bukan merupakan rancanganNya. Tapi aku yakin dan percaya rancanganNya adalah rancangan DAMAI SEJAHTERA yang memberikan masa depan yang penuh HARAPAN bagi kita semua.
” KEBERSAMAAN TAK AKAN PERNAH BERAKHIR KETIKA KITA YAKIN TUJUAN HIDUP DAN SEMANGAT YANG KITA MILIKI SAMA DAN TAK AKAN PERNAH MATI “. Semangat semuanya, masih banyak gunung kehidupan yang harus kita capai dan taklukan.
God Bless u all.